RATAHAN - Pemerintah Kabupaten Minahas Tenggara (Mitra) didesak, untuk mengalihkan kas daerah, dari BRI ke Bank Sulut.
Ketua LSM Gema Mitra Vidy Ngantung menegaskan, sudah sangat tepat apabila di tahun 2015 ini Pemkab Mitra memindahkan kas daerah ke Bank Sulut, karena dinilainya pelayanan BRI kurang baik, sehingga banyak mendapat keluhan dari nasabah, begitu juga dengan pihak Pemkab Mitra.
“Jika muncul keluhan dari para pegawai serta pihak ketiga, maka pelayanan BRI patut dipertanyakan. Apalagi diakhir tahun kemarin, banyak SP2D tidak dibukukan. Ini tentu bisa dijadikan dasar dan pertimbangan Pemkab Mitra memindahkan kas daerah,” tegas Ngantung, kemarin.
Lanjut Ngantung, kalo kemudian BRI beralasan tidak bisa melakukan pelayanan hingga pukul 12 malam, maka tidak ada pilihan selain memindahkan kas daerah ke torang pe bank atau Bank Sulut.
“Saat kas daerah ditangani Bank Sulut, mereka bahkan melakukan pelayanan hingga pukul 4 pagi. Nah, kalo BRI hanya bisa jam 11 malam, kenapa tidak kas daerah dipindahkan lagi ke Bank Sulut. Dengan begitu pasti pelayanan keuangan Pemkab Mitra akan lebih maksimal,” tukasnya.
Senada diungkapkan salah satu bendahara SKPD di lingkungan Pemkab Mitra. Menurut dia, dalam melakukan proses pencairan, BRI kerap terlambat dan tidak tepat waktu. “Paling-paling molor satu sampai dua hari baru dananya masuk ke rekening. Makanya saya selaku bendahara sering jadi bulan-bulanan kekesalan para pagawai bahkan rekanan,” tutur sumber yang meminta namanya tidak ditulis.
Sementara itu, anggota DPRD Mitra Nolly Langingi menegaskan, tak ada pilihan lain bagi Pemkab Mitra selain mempercayakan bank yang pelayanannya lebih baik dalam menangani kas daerah. “Kalo ada yang lebih baik kenapa tidak dipercayakan kepada mereka,” saran anggota Dekab dua periode ini.
Pihak BRI Unit Ratahan mengakui, telah memberikan pelayanan maksimal dan sesuai standar perbankan. Kepala BRI Unit Ratahan Junus Tjiwili menegaskan, tidak ada yang mengecewakan dalam pelayanan kepada Pemkab Mitra, khususnya kepada pihak ke ketiga selaku rekanan Pemkab serta para nasabah.
“Kami sudah maksimal melayani setiap permintaan Pemkab Mitra. Soal pemberitaan sebelumnya bahwa pelayanan BRI mengecewakan, itu keliru dan mengada-ada,” kata Tjiwili kepada wartawan, kemarin.
Lanjut dia, pada beberapa kali permintaan, pihak BRI justru sering jemput bola. Hal ini dilakukan guna membantu pihak Pemkab Mitra melalui instansi terkait sehingga setiap proses SP2D yang masuk langsung dibukukan secara cepat.
“Jadi kalo ada yang tidak dibukukan 31 Desember kemarin, itu bukan kesalahan BRI akan tetapi karena keterlambatan pemasukan SP2D dari dinas keuangan,” terangnya.
Diungkapkan Tjiwili, pada 30 Desember lalu pihaknya sudah menyampaikan untuk pemasukan SP2D tertanggal 31 Desember hanya sampai jam 10 malam. Hanya saja, ada sekitar 200-an SP2D baru masuk pada jam 11 malam, sehingga itu sudah tidak bisa dibukukan.
“Kabanyakan yang tidak dibukukan adalah rekening bank lain. Sebab pelayanan BRI untuk cliring atau pengiriman ke bank lain hanya sampai jam 15.00 WITA. Sementara SP2D-nya baru masuk jam 23.00 WITA. Intinya BRI tidak bisa malayani sampai jam 00.00 WITA,” ujarnya.
Pihak BRI Ratahan sendiri dibantu kantor cabang dan wilayah tanggal 30 dan 31 Desember menyiapkan dana sebesar Rp 46 miliar. Hanya saja dari 10 teller yang disiapkan, dana yang keluar hanya Rp 16 miliar.
“Karena tidak terpakai, sisa dana Rp30 milyar saat itu juga langsung dikembalikan ke kantor cabang di Tondano,” tandasnya. (nolfie)
.gif)