Home » , , » Diskusi KMP3: Pemerintah dan Masyarakat Berperan Membantu Anak Putus Sekolah

Diskusi KMP3: Pemerintah dan Masyarakat Berperan Membantu Anak Putus Sekolah

Ditulis oleh Unknown pada hari Jumat, 27 Februari 2015 |Pukul 20.06

Wakil Walikota Manado, Harley Mangindaan dan sejumlah pembicara lain terlihat seru dalam diskusi yang digagas Koalisi Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (KMP3), Kamis (26/2/2015) di Aula RRI Manado. (foto: manado1)
MANADO - Meski persoalan anak putus sekolah menjadi tanggungjawab bersama baik pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat, namun pemerintah diminta lebih memberikan perhatian yang lebih terhadap hal ini. Pasalnya pemerintahlah yang mempunyai kewenangan, program, serta anggaran pembangunan termasuk di bidang pendidikan.

“Memang betul bahwa soal anak putus sekolah menjadi tanggungjawab bersama. Namun pemerintahlah yang seharusnya lebih memberikan perhatian, karena kewenangan, program maupun anggaran bersumber dari mereka. Masyarakat bleh berinisiatif, namun tanpa dukungan pemerintah akan berjalan kurang ekfektif,” papar Aryati Rahman dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado saat dialog  multipihak yang digelar Koalisi Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (KMP3) di Aula RRI Manado, Kamis (26/2/2015) kemarin.

Lanjut Arya, pemerintah tidak bisa melepas tanggungjawab dengan mengatakan bahwa Kota Manado merupakan magent bagi daerah lain sehingga tingginya angka putus sekolah juga karena pengaruh masuknya penduduk ke Kota Manado. “Persoalannya bukan pada masuknya penduduk ke kota Manado, tetapi bagaimana program dan anggaran pemerintah di bidang pendidikan itu tepat sasaran,” papar Arya.   

Sebelumnya para aktivis dari “Komunitas Dinding” yang selama ini membina anak-anak usia sekolah di Pasar Bersehati menyampaikan bahwa, meski mereka sudah lima tahun beraktifitas mendidik anak-anak, namun pemerintah seolah tutup mata dengan kondisi itu. “Kami sudah lima tahun membina anak-anak putus sekolah, tanpa bantuan dan perhatian dari pemerintah. Meski demikian kita tetap jalan. Persoalannya adalah kami tidak bisa meluluskan ijasah yang dianggap legal. Meski hanya dengan selembar piagam, ratusan anak yang kami bina itu sudah senang,” papar Ika dari Komunitas Dinding.

Dalam acara yang dipandu Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado, Ishak Kusrant dan Direktur Yayasan Dian Rakyat Indonesia (YDRI) Sulut, Nurhasanah ini, turut hadir juga Wakil Walikota Manado, Harley Ai Mangindaan, Ketua Aliansi Guru Indoneia Sulut (AGIS), Ferry Sangian, pemerhati pendidikan Tenny Tompudung, pihak Dinas Pendidikan Kota Manado, serta Apridon Zaini selaku Koordinator BASICS Project.        

Menanggapi berbagai persoalan yang terungkap terkait anak putus sekolah itu, Ai mengatakan, sebenarnya hal itu menjadi tanggungjawab semua pihak. Masalahnya adalah, lanjut dia, ada komunikasi yang terputus antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat. “Nah jembatan yang menghubungkan para pihak inilah yang terputus. Untuk itu perlu dibangun jembatan emas yang menghubungkan pihak terkait, membangun kerjasama mengatasi persoalan anak putus sekolah ini,” papar Ai.

Sementara itu, Sangian dalam pemaparannya menyatakan, ada banyak hal yang menyebabkan anak putus sekolah termasuk diantaranya persoalan ekonomi dan rumah tangga orang tua. “Kondisi dan persoalan ekonomi bisa jadi pemicu anak putus sekolah. Maka harus diperhatikan factor-faktor  ini. Sehingga saya sepakat bahwa persoalan ini menjadi tanggungjawab semua pihak,” papar Sangian.

Diketahui kegiatan dialog interaktif yang digagas KMP3 (AJI Manado dan YDRI) dengan dukungan penuh dari BASICS itu menghasilkan sejumlah solusi antara lain perlunya kerjasama para pihak untuk menuntaskan persoalan anak putus sekolah.(joe)
Sebarkan tulisan ini : :

News Streaming

 
www.manadosatu.com | Info Iklan | Kontak Kami | Redaksi
Copyright © 2014. manadosatu - CV.
Contact email: manadosatu@gmail.com, manadosatu@yahoo.com
Kreasi by ManadoSatu.Com Crew