| Seminar lingkungan hidup yang digelar MPA Linnaeus FMIPA Unima |
Manado-
Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Linnaeus FMIPA Universitas Negeri Manado (Unima),
sukses menggelar kegiatan seminar dan pameran foto terkait konservasi
sumberdaya air, Sabtu (28/03) lalu, di itCenter Manado. Hal menarik yang
terungkap dalam kegiatan itu adalah, saat ini ada sedikitnya 100 smber mata air
yang dilindungi oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk menghindarkan daerah
ini dari krisis air.
Kepala BLH
Provinsi Sulut, Edwin Silangen melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran,
Sonny Runtuwene mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan
pemerintah kabupaten dan kota di Sulawesi Utara untuk menginventarisir semua
sumber mata air yang ada. Inventarisir itu, lanjut Sonny, juga dengan
mengklasifikasikan kondisi dari masing-masing sumber mata air tersebut. Dan
berdasarkan data, lanjut dia, saat ini ada 100 sumber mata air di Sulawesi
Utara yang dilindungi. “Kami sudah mendata di 15 kabupaten dan kota di Sulawesi
Utara, terdapat 100 sumber mata air. Mencegah krisis air, 100 sumber mata air
inilah yang kita lindungi,” papar Sonny.
Upaya
melindungi sumber mata air itu, menurut Sonny, dilakukan dengan cara menanam
tumbuhan di kawasan sekitarnya yang kemudian akan berkembang dan melindungi
sumber daya air yang ada di situ. “Saat ini kami giat melakukan penanaman
tumbuhan di kawasan sumber mata air. Ini salah satu upaya konservasi sumber
daya air,” papar Sonny.
Sonny mengakui,
kegiatan pertambangan memang paling banyak menggunakan sumber-sumber air untuk
aktivitasnya. “Memang banyak sumber air digunakan dalam aktivitas pertambangan.
Tak hanya oleh perusahaan yang punya ijin pertambangan, melainkan juga oleh
tambang-tambang rakyat yang tidak punya ijin. Aktivitas itu selain merusak
sumber mata air, juga mencemari sungai,” papar dia.
Salah satu
upaya pencegahan yang dilakukan terkait penambangan rakyat tanpa ijin itu,
menurutnya, dilakukan dengan mengatur zona atau kawasan penambangan rakyat. “Di
luar kawasan itu tidak diperkenankan melakukan aktivitas penambangan,” pungkas
Sonny.
Sementara
itu, Ketua AJI Manado, Yoseph E Ikanubun yang menyampaikan materi soal “Peran
Media Dalam Upaya Konservasi Lingkungan” mengungkapkan bahwa, tidak banyak
media yang menaruh perhatian serius untuk masalah-masalah lingkungan. Hal itu
bisa dilihat dari rubrikasi dalam halaman-halaman media cetak dan online atau
acara-acara di media elektronik. Selain itu, lanjut dia, jurnalis yang menaruh
minat pada persoalan-persoalan lingkungan juga tidak banyak. “Peran inilah yang
sebenarnya bisa diambil kawan-kawan pencinta alam, sebagai jurnalis warga,”
ujar dia.
Dalam seminar
yang dipandu Rine Araro sebagai moderator itu, dia juga banyak membeber
persoalan pengrusakan lingkungan yang justru dilakukan akibat tumpang tindih
regulasi oleh pemerintah. “Ada dua sumber mata air di Pulau Bangka, Minahasa
Utara yang dirusak akibat aktivitas pertambangan. Seharusnya pemerintah tegas
dalam hal ini,” tegas Ikanubun yang juga merupakan salah satu alumni MPA Linnaeus FMIPA
Unima ini.
Turut hadir
dalam kegiatan ini sejumlah alumni MPA Linnaeus FMIPA Unima seperti, Helly
Tambengi, Yahya Tumanduk, serta Helty Dipan.(joe)