Home » » MPA Linnaeus Sukses Gelar Seminar Lingkungan

MPA Linnaeus Sukses Gelar Seminar Lingkungan

Ditulis oleh Unknown pada hari Minggu, 29 Maret 2015 |Pukul 19.05

Seminar lingkungan hidup yang digelar MPA Linnaeus FMIPA Unima
Manado- Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Linnaeus FMIPA Universitas Negeri Manado (Unima), sukses menggelar kegiatan seminar dan pameran foto terkait konservasi sumberdaya air, Sabtu (28/03) lalu, di itCenter Manado. Hal menarik yang terungkap dalam kegiatan itu adalah, saat ini ada sedikitnya 100 smber mata air yang dilindungi oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk menghindarkan daerah ini dari krisis air.

Kepala BLH Provinsi Sulut, Edwin Silangen melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Sonny Runtuwene mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota di Sulawesi Utara untuk menginventarisir semua sumber mata air yang ada. Inventarisir itu, lanjut Sonny, juga dengan mengklasifikasikan kondisi dari masing-masing sumber mata air tersebut. Dan berdasarkan data, lanjut dia, saat ini ada 100 sumber mata air di Sulawesi Utara yang dilindungi. “Kami sudah mendata di 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, terdapat 100 sumber mata air. Mencegah krisis air, 100 sumber mata air inilah yang kita lindungi,” papar Sonny.
Upaya melindungi sumber mata air itu, menurut Sonny, dilakukan dengan cara menanam tumbuhan di kawasan sekitarnya yang kemudian akan berkembang dan melindungi sumber daya air yang ada di situ. “Saat ini kami giat melakukan penanaman tumbuhan di kawasan sumber mata air. Ini salah satu upaya konservasi sumber daya air,” papar Sonny.
Sonny mengakui, kegiatan pertambangan memang paling banyak menggunakan sumber-sumber air untuk aktivitasnya. “Memang banyak sumber air digunakan dalam aktivitas pertambangan. Tak hanya oleh perusahaan yang punya ijin pertambangan, melainkan juga oleh tambang-tambang rakyat yang tidak punya ijin. Aktivitas itu selain merusak sumber mata air, juga mencemari sungai,” papar dia.
Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan terkait penambangan rakyat tanpa ijin itu, menurutnya, dilakukan dengan mengatur zona atau kawasan penambangan rakyat. “Di luar kawasan itu tidak diperkenankan melakukan aktivitas penambangan,” pungkas Sonny.
Sementara itu, Ketua AJI Manado, Yoseph E Ikanubun yang menyampaikan materi soal “Peran Media Dalam Upaya Konservasi Lingkungan” mengungkapkan bahwa, tidak banyak media yang menaruh perhatian serius untuk masalah-masalah lingkungan. Hal itu bisa dilihat dari rubrikasi dalam halaman-halaman media cetak dan online atau acara-acara di media elektronik. Selain itu, lanjut dia, jurnalis yang menaruh minat pada persoalan-persoalan lingkungan juga tidak banyak. “Peran inilah yang sebenarnya bisa diambil kawan-kawan pencinta alam, sebagai jurnalis warga,” ujar dia.
Dalam seminar yang dipandu Rine Araro sebagai moderator itu, dia juga banyak membeber persoalan pengrusakan lingkungan yang justru dilakukan akibat tumpang tindih regulasi oleh pemerintah. “Ada dua sumber mata air di Pulau Bangka, Minahasa Utara yang dirusak akibat aktivitas pertambangan. Seharusnya pemerintah tegas dalam hal ini,” tegas Ikanubun yang juga merupakan salah satu alumni MPA Linnaeus FMIPA Unima ini.

Turut hadir dalam kegiatan ini sejumlah alumni MPA Linnaeus FMIPA Unima seperti, Helly Tambengi, Yahya Tumanduk, serta Helty Dipan.(joe)
Sebarkan tulisan ini : :

News Streaming

 
www.manadosatu.com | Info Iklan | Kontak Kami | Redaksi
Copyright © 2014. manadosatu - CV.
Contact email: manadosatu@gmail.com, manadosatu@yahoo.com
Kreasi by ManadoSatu.Com Crew