Home » » Sandang Guru Profesional, Itu Belum jadi Jaminan

Sandang Guru Profesional, Itu Belum jadi Jaminan

Ditulis oleh Unknown pada hari Senin, 02 Maret 2015 |Pukul 19.24


Para pembicara pada Pelatihan dan Pengembangan Profesi Guru (P3G) yang digelar P/KB GMIM, akhir pekan lalu, di Jemaat Eben Heaser Talikuran, Kawangkoan.(foto: manado1)

MANADO - Meski sudah menyandang predikat sebagai guru profesional, namun ternyata banyak tenaga pendidik di Sulut masih bermasalah. Persoalan ini mulai dari kepemilikan ijasah palsu, hingga tindakan plagiat untuk kenaikan.

Hal ini terungkap dalam kegiatan Pelatihan dan Pengembangan Profesi Guru (P3G) yang digelar oleh Pria/Kaum Bapak (P/KB) Sinode GMIM di Jemaat Eben Haeser Talikuran Kawangkoan, Sabtu (28/2/2015) lalu.

“Banyak guru profesional di Sulut yang bermasalah. Salah satunya adalah dengan temuan Tim Universitas Negeri Manado terkait kepemilikan ratusan ijasah palsu oleh guru-guru. Ini tentu sangat memprihatinkan,” ungkap Direktur Program Pascasarjana Unima, Prof Dr Urbanus Naharia MPd saat menyampaikan materinya.

Terkait hal itu, Naharia mengatakan, secara hukum pemalsuan ijasah itu sudah ditangani oleh aparat kepolisian. Sementara Unima selaku Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK), lanjut Naharia, punya tanggungjawab untuk terus mengingatkan kepada para guru agar bisa memperoleh ijasah ataupun dokumen lainnya dengan cara-cara yang bertanggungjawab.

Sebelumnya Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Sulut, Asiano Gammy Kawatu SE MSi juga mengungkapkan terkait rendahnya kualitas guru di Sulut. Selain itu, Kawatu mengingatkan soal bagaimana guru harus mengikuti prosedur yang benar dalam mengurus Penetapan  Angka Kredit (PAK) untuk kenaikan pangkat, hingga membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang benar. “Dalam mengurus kenaikan pangkat, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Ini yang selalu kami sampaikan,” ujar Kawatu.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Olahraga (FIK) Unima, Prof Dr Theo Mautang mengatakan, dalam pembuatan PTK yang banyak terjadi adalah copypaste atau plagiat dari penelitian-penelitian sebelumnya. Ungkap Mautang, saat dia memeriksa hasil PTK sejumlah guru ditemukan banyak kerancuan dimana data-data yang ada sering bertolak belakang dengan identitas guru pembuat penelitian. “Misalnya guru yang bersangkutan berjenis kelamin perempuan, namun dalam biodata tertulis laki-laki. Juga asal sekolah Tomohon, tapi tertulis Semarang. Ini artinya dia hanya mengambil penelitian orang lain, yang celakanya data-data itu lupa dihapus. Ini persoalan-persoalan yang dialami guru-guru kita,” papar Mautang, yang juga anggota P/KB Sinode GMIM ini.

Terkait berbagai persoalan itu, lanjut Mautang, P/KB Sinode GMIM mengambil peran penting dalam melakukan pembinaan terhadap guru-guru GMIM agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang justru memalukan profesi guru itu sendiri. “Ini peran P/KB GMIM dalam membina para guru, sehingga benar-benar professional dan bertanggungjawab atas profesi yang melekat. Ke depan, kami akan terus melakukan pembinaan terhadap guru-guru di berbagai rayon,” ujar Mautang yang juga Ketua P/KB GMIM Eben Haeser Talikuran Kawangkoan ini.

Kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama P/KB Sinode GMIM, Unima, serta Dinas Diknas Provinsi Sulut ini turut dihadiri Ketua P/KB Sinode GMIM, Pnt Ir Stefanus BAN Liow bersama Wakil Sekretaris Dr Hermanus Bawuoh MSi, serta sejumlah anggota seperti Drs Jackried Maluenseng MSc dan Drs Dolfie Tutu.(joe)
Sebarkan tulisan ini : :

News Streaming

 
www.manadosatu.com | Info Iklan | Kontak Kami | Redaksi
Copyright © 2014. manadosatu - CV.
Contact email: manadosatu@gmail.com, manadosatu@yahoo.com
Kreasi by ManadoSatu.Com Crew